homepage

Kamis, 27 Januari 2011

Apakah Tasawuf Itu Pantheisme?

Pendahuluan
Hubungan kedekatan dan hubungan penghambaan sufi dan Kholiqnya akan melahirkan perspektif  dan pemahaman yang  berbeda-beda antara sufi yang satu dengan sufi yang lainnya.
Keakraban dan kedekatan ini mengalami elaborasi, sehingga akan melahirkan dua kelompok besar. Kelompok yang pertama mendasarkan pengalaman kesufiannya dengan pemahaman yang sederhana dan dapat dipahami oleh orang-orang yang awam. Sedang kelompok yang kedua akan melahirkan pemahaman yang sangat mendalam dan tidak mudah dimengerti oleh orang awam. Pemahaman yang pertama itu melahirkan tokoh-tokoh  Tasawuf sunni, antara lain : Al-Junaid, Al-Qusyairi dan Al-Ghozali. Sedangkan yang kedua di sebut dengan Tasawuf falsafi yang melahirkan tokoh-tokoh antara lain : Al-Hallaj, Ibnu Arabi dan Al-Jilli.
Merekapun menemukan konsep-konsep masing-masing, yaitu konsep falsafi seperti Hulul yang dipelopori Al-Hallaj, Wihdatul wujud oleh Ibnu Arobi dan juga insan kamil oleh Al-Jilli.
Akan tetapi dilain pihak, tepatnya dibarat muncul juga mistisisme barat    yang mengangkat konsep Pantheisme yang mana dalam sebagian buku tasawuf sering disamakan dengan konsef tasawuf  Islam yang berkembang seperti halnya wihdatul wujud.
Maka disini kita akan belajar dan membahas yang salah kaprah  yang telah mereka - orang-orang barat - buat. Apakah  Tasawuf adalah Pantheisme?.
Disinilah kita akan menjelaskan satu persatu, mulai dari pengertian tentang Tasawuf tersebut, konsep-konsepnya dan juga sampai pada hubungannya dengan pantheisme itu sendiri. Apakah tasawuf itu masuk pada tataran konsep  pantheisme barat?
Tasawuf
Para ulama banyak berbeda pendapat tentang asal kata tasawuf, penulis kitab Ar-Risalah, yaitu imam Al Qusyairi telah menuliskan pendapatnya tentang asal kata tersebut[1] :
a.       Ada  yang mengatakan asal kata ini dari kata shuf (bulu domba). Jadi jika seseorang memakai baju bulu domba, ia akan diberi nama ber-tashawuf,
b.      Ada juga  yang mengatakan bahwa kaum sufi berhubungan dengan serambi (ash-shuffah) masjid Rosulullah.
c.       Kelompok yang lain mengatakan bahwa kat tashawwuf diambil dari kata ash-shafa’, yang mempunyai arti kejernihan.
d.      Ada juga yang mengatakan bahwa dari kata shaff, yang artinya barisan.
Akan tetapi pendapat yang paling sering dipakai adalah dari kata shuf,  yaitu bulu domba. Karena dinisbatkan dari pakaian mereka -orang  yang memakai pakaian bulu domba- yang meninggalkan pakaian dan kesenangan duniawi[2], yaitu mereka yang menempati hidup dalam kesederhanaan. Sekalipun demikian pakaian  yang terbuat dari shuf  sangat kuat, murah, kasar dan perawatannya tidak sulit.
Sedangkan Tasawuf sendiri ada yang didefinisikan dalam sudut pandang akhlak[3]. Sudut pandang ini sangat populer di kalangan para sufi, para pemerhati tasawuf dan juga sejarawan. Menurut Abu Bakar Al Kittani (wafat 233 H) berkata : “Tasawuf adalah akhlak. Barang siapa yang bertambah akhlaknya, maka akan bertambah pula kejernihannya”. Menurut Muhammad Al Jariri (wafat 311 H) bahwa Tasawuf adalah masuk kedalam semua akhlak yang terpuji dan keluar dari semua akhlak yang rendah dan tercela.
Demikianlah Tasawuf dipandang dari sudut pandang akhlak yang sangat populer, baik di timur ataupun di barat, masa lalu atau masa sekarang. Namun demikian, tinjauan akhlak ini belum memadai untuk gambarkan hakikat tasawuf yang sebenarnya. Oleh karena itu, banyak tokoh yang mendefinisikan tasawuf dari sudut pandang akhlak dan juga memberikan definisi dari sudut pandang yang lain, yaitu sudut pandang dari falsafi yang melahirkan konsep seperti hulul, wihdatul wujud dan juga insan kamil seperti yang kita tahu dalam pendahuluan.
Konsep   Tasawuf
Dalam tasawuf terdapat banyak sekali konsep-konsep yang sesuai dengan pelaku tasawuf tersebut, dan juga mereka ada beberapa aliran yang menjadi tujuan masing-masing yaitu tasawuf akhlaki, tasawuf sunni dan juga tasawuf falsafi[4] yang mengangkat konsep hulul yang dipelopori oleh Al Hallaj, wihdatul wujud oleh Ibnu Arobi dan juga insan kamil oleh Al Jilli. Akan tetapi kali ini akan hanya mengangkat dan mengerucutkan masalah dalam pembahahan tentang alirab falsafi saja yang mengangkat masalah wihdatul wujud saja, karena kesatuan wujud tuhan yang akan kita bahas dengan membandingkan pendapat orientalis barat yang mengangkat konsep kesatuan wujud (pantheisme).
Konsep Tasawuf Falasafi
Sebelum kita mempelajari tentang konsep tasawuf falasafi yang mana kita akan mengerucutkan masalah pada konsep wihdatul wujud, karena konsep ini yang paling mengena dengan konsep pantheistik barat, apakah konsep yang ada didalam tasawuf falasafi islam ini sama dengan konsep pantheisme yang diangkat oleh orang barat?
Konsep tasawuf falsafi berkembang pesat, sehingga melahirkan konsep-konsep yang unik untuk dibahas, antara lain :
Konsep Hulul
Kata hulul berimplikasi kepada bersemayamnya sifat-sifat ke-Tuhanan kedalam diri manusia atau masuk suatu dzat kedalam dzat yang lainnya. Hulul adalah doktrin yang sangat menyimpang. Hulul ini telah disalah artikan oleh manusia yang telah mengaku bersatu dengan Tuhan. Sehangga dikatakan bahwa seorang budak tetaplah seorang budak dan seorang raja tetaplah seorang raja. Tidak ada hubungan yang satu dengan yang lainnya sehingga yang terjadi adalah hanyalah Allah yang mengetahui Allah dan hanya Allah yang dapat melihat Allah dan hanya Allah yang menyembah Allah.
Sebagai salah satu bentuk tasawuf falsafi, paham hulul memiliki landasan filosofis tertentu sebagai tempat pijakannya. Tuhan menurut pandangan Al-Hallaj adalah yang Maha Cinta dan Maha Kasih, dan cinta kasih terhadap dirinya sendiri menjadi menjadi sebab adanya semua makhluk, termasuk bani Adam adalah sebagai jelmaan Tuhan yang menciptakan semua makhluk-makhluknya itu. Atas dasar inilah kemudian Al-Hallaj meyakini bahwa dalam diri Tuhan ada sifat kemanusiaan yang disebut Nasut, dan pada manusia terdapat sifat Tuhan yang disebut Lahut. Dengan demikian pada dasarnya Al-Hallaj mengakui adanya dualisme, yaitu Tuhan memiliki sifat Lahut sekaligus sifat Nasut (sifat kemanusiaan). Begitu pula manusia memiliki sifat Nasut sekaligus memiliki pula sifat Lahut (sifat keTuhanan). Dengan kerangka berfikir tersebut maka persatuan antara makhluk dengan khaliq dapat terjadi.
Konsep Wihdatul Wujud
Wihdatul Wujud adalah faham yang disusun oleh Ibnu Arabi. Istilah Wihdatul Wujud sangat dekat dengan pribadi Ibnu Arabi, sehingga ketika menyebut pemikiran Ibnu Arabi seakan-akan terlintas tentang doktrin wahdatul wujud. Aliran ini pada dasarnya berlandaskan pada perasaan, sebagaimana Ibnu Arabi pernah berkata : ”maha suci dzat yang menciptakan segala sesuatu dan dia adalah sesuatu itu”.
Disini kami akan memulai pembahasan ini secara langsung dengan menguraikan sejenak tentang batasan diskusi pada tema tersebut, yaitu Wihdatul Wujud (kesatuan wujud)[5], bukan Wihdatul Maujud (kesatuan segala yang ada). Pembahasan tentang kesatuan wujud bertumpu pada sebuah kata “wujud”, yang diterjemahkan sebagai yang ada, eksistensi dan ‘menemukan’. Dalam konteks ini, dua terjemahan ini akan diterapkan, meskipun kadang memerlukan penerapan ungkapan “wujud/eksistensi” untuk menekankan pada kenyataan bahwa kedua makna tersebut mesti dipahami sesuai dengan konteksnya[6].
‘Wujud yang satu’, Adakah keraguan dalam wujud yang satu?, sesungguhnya wujud yang satu adalah wujud Allah yang Mahakaya dengan dzat-Nya dari selain-Nya. Itulah wujud yang haq, yang memberi wujud bagi setiap makhluk dan pencipta makhluk[7].
Menurut aqidah Tasawuf, wihdatul wujud berarti tiada yang wujud di alam buana ini selain Allah SWT. Segala bentuk rupa makhluk yang kelihatan adalah gambaran luaran bagi hakikat yang satu yaitu hakikat Allah.
Menurut Ibnu Arabi ke-Esaan wujud, bahwa tidak ada sesuatupun yang memiliki wujud hakiki kecuali Tuhan, sementara alam atau segala sesuatu selain Tuhan, keberadaannya adalah karena diwujudkan oleh Tuhan. Karena itu dilihat dari segi keberadaannya dengan dirinya sendiri, alam itu tidak ada, tetapi jika di lihat dari “keberadaan karena wujud Tuhan”, maka jelaslah alam itu ada.
Dengan “wujud” di maksudkan untuk menunjuk pada hakikat serta esensi Tuhan. Tuhan adalah wujud, dan non eksistensi tidak memiliki keterkaitan dengan-Nya[8]. Hal itu mengisyaratkan bahwa “segala sesuatu yang selain Tuhan” terpisah dari Tuhan dan merupakan percampuran dari non eksistensi. Sesuatu, bentuk-bentuk, sifat-sifat dan seluruh nama yang diterapkan pada yang selain Tuhan, pada dasarnya adalah non eksistensi. Akan tetapi, non eksistensi bukan berarti ketiadaan absolut, karena adanya segala sesuatu itu, baik dari segi objek pengetahuan Tuhan dalam kosmos yang belum  mereka ketahui ataupun menjadi ada melalui yang lain yakni Tuhan[9].
Dalam pengetahuan Tuhan, sesuatu tidak mewujud, baik dalam kosmos ataupun didalam dirinya sendiri. Namun, mereka ‘ada’ di dalam melalui suatu cara yang analog dengan bagaimana pemikiran berada dalam pikiran kita. Dalam kosmos, segala sesuatu tidak memiliki eksistensi di dalam diri mereka sendiri, namun meeka memiliki ‘tanda’ dan ‘akibat’ dari yang nyata, yakni wujud.
Apa yang sebenarnya kita amati dalam semesta adalah wujud yang dilingkupi oleh berbagai pembendaharaan dari sesuatu yang tidak ada, ataupun sesuatu yang ternyatakan melalui wujud. Namun kita tidak pernah mengetahui sesuatu sesuai dengan hakikatnya yang tersembunyi, karena non eksistensi tidak akan dapat di kenali, seperti halnya kita tidak mengetahui Tuhan, karena Tuhan berada diseberang persepsi dan pemahaman[10].
Setelah kita membahas sedikit tentang konsep-konsep yang dikembangkan oleh sufi-sufi tasawuf falsafi, maka sekarang kita akan membahas tentang konsep pantheisme(kesatuan segala yang ada) yang dikembangkan aliran pantheistik.
Pantheisme
Pantheisme adalah ide dasar dari tasawuf falsafi yang berkembang di barat. Pantheisme berasal dari kata yunani, yaitu pan yang berarti semua dan theos yang berarti Tuhan. Jadi, Pantheisme adalah paham yang menganggap Tuhan adalah immanen (ada di dalam) makhluk~makhluk. Dengan kata lain Tuhan dan alam adalah sama[11].
Konsep pantheisme ini sering sekali disamakan dengan konsep wihdatul wujud dalam tasawuf islam, dalam buku-buku tasawuf sering sekali penulisnya membahas konsep ini menyamakan dengan konsep wihdatul wujud. Akan tetapi pendapat ini sangatlah salah, istilah pantheisme lahir sejak zaman yunani kuno. Arti pantheisme dalam mistik orang kristen adalah tuhan merupakan esensi dari segala sesuatu yang ada. Tidak ada sesuatu kecuali tuhan. Mereka beranggapan bahwa tidak ada pemisah antara tuhan dan thobi’ah (alam). Thobi’ah adalah Tuhan dan Tuhan adalah thobi’ah. Demikian juga yang disampaikan platonisme, “hakikat yang banyak berada dalam yang satu”[12].
Sebenarnya istilah Pantheisme di yakini pertama kali dicetuskan oleh John Toland, mengenai definisi pantheisme sendiri Robert Flint berpendapat bahwa, Pantheisme adalah teori yang memandang segala sesuatu yang terbatas sebagai aspek, modifikasi, atau bagian belaka dari wujud yang kekal dan ada dengan sendirinya, yang memandang semua benda materiil sebagai mesti yang berasal dari satu Substansi absolut yang Esa itu wujud maha yang meliputi Esa disebutnya Tuhan. Jadi Tuhan menurutnya, adalah segala sesuatu yang ada.
Doktrin metafisika yang berkembang di barat dan timur seringkali dinamakan pantheistik, akan tetapi sebenarnya pantheisme hanya ditemukan di bagian eropa dengan para filosofnya dan para orientalis yang dipengaruhi oleh ajaran barat. Pantheisme terbangun karena persamaan kecenderungan mental atau jiwa yang dihasilkan pemikiran materialistik dan juga pemikiran naturalistik[13], yaitu pemikiran yang memandang bahwa segala materi atau benda yang ada di alam ini adalah wujud dari tuhan itu sendiri.
Itu berarti pantheisme adalah ajaran yang memahami bahwa wujud Tuhan itu tidak ada, kecuali dalam kandungan wujud alam dan juga wujud dari materi. Segenap wujud alam adalah wujud Tuhan dan juga wujud Tuhan adalah wujud alam (baik dari segi wujudnya dan juga dari segi penampakannya). Jadi para penganut Pantheisme itu mengidentikkan tuhan dengan alam, mereka menetapkan adanya kesatuan hakikat dalam kejamakan alam tanpa membedakan martabat tuhan dengan martabat alam.
Apakah Tasawuf itu Pantheisme?
Sebagaimana yang telah kita uraikan dan kita pelajari diatas bahwasannya Tasawuf dalam Islam berkembang kepada beberapa aliran-aliran tasawuf, dan berkembang juga dengan konsep-konsep yang telah kita pelajari sebelumnya. Bahwa, Tasawuf mempelajari konsep-konsep ketuhanan seperti hulul, wihdatul wujud dan lain sebagainya. Yang mana memandang bahwa segala substansi yang ada di alam ini adalah Tuhan itu sendiri, bahwa alam ini adalah bukti dan gambaran luaran dari Allah.
Yang mana, Menurut Ibnu Arobi ke-Esaan wujud, bahwa tidak ada sesuatupun yang memiliki wujud hakiki kecuali Tuhan, sementara alam atau segala sesuatu selain Tuhan, keberadaannya adalah karena diwujudkan oleh Tuhan. Karena itu dilihat dari segi keberadaannya dengan dirinya sendiri, alam itu tidak ada, tetapi jika di lihat dari “keberadaan karena wujud Tuhan”, maka jelaslah alam itu ada.
Akan tetapi pantheisme berpandangan bahwa wujud Tuhan itu tidak ada, yang ada hanyalah wujud alam ini dan juga semua materi yang ada didalamnya. Pantheisme terbangun karena persamaan kecenderungan mental atau jiwa yang dihasilkan pemikiran Materialistik dan juga pemikiran Naturalistik, yaitu pemikiran yang memandang bahwa segala materi atau benda yang ada di alam ini adalah wujud dari Tuhan itu sendiri.
Jadi disinilah kita akan mengetahui bahwa ada perbedaan yang sangat mendasar dari tasawuf dan juga Pantheisme, yaitu Tasawuf memandang bahwa Tuhan itu ada dan benda yang ada dialam ini subtansinya adalah hakikat tuhan itu sendiri, sedangkan Pantheisme itu memandang tidak ada Tuhan, yang ada hanyalah materi dan juga alam ini.








Daftar Pustaka
Abdul Qodir Mahmud. Al-Falsafah As-Sufiyyah fi Al-Islam. Kairo: Darul Fikr Al Arobi. 1966.
Burchardt, Titus. An Introduction of Sufism.
Chittick, William  C. 2001. The Sufi Path of Knowledge Tuhan Sejati dan Tuhan-tuhan Palsu. Jogjakarta: Penerbit Qalam
Mahmud, Abdul Halim. 2002. Tasawuf di Dunia Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Mahmud, Abdul Halim. 2005. Membebaskan Manusia dari Kesesatan. Yogyakarta: Mitra Pustaka.
Syukur, Amin. 1999. Menggugah Tasawuf, Sufisme dan Tanggung Jawab Sosial Abad 21.


[1] Mahmud, Abdul Halim. 2002. Tasawuf di Dunia Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia. hal 17. baca juga.Syukur, Amin. 1999. Menggugah Tasawuf, Sufisme dan Tanggung Jawab Sosial Abad 21. hal 8
[2] Mahmud, Abdul Halim. 2002. Tasawuf di Dunia Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia. hal 20.
[3] Mahmud, Abdul Halim. 2005. Membebaskan Manusia dari Kesesatan. Yogyakarta: Mitra Pustaka.hal 246.
[5] Mahmud, Abdul Halim. 2002. Tasawuf di Dunia Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia. Hal 188.
[6] Chittick, William  C. 2001. The Sufi Path of Knowledge Tuhan Sejati dan Tuhan-tuhan Palsu. Jogjakarta: Penerbit Qalam. Hal 227.
[7] Mahmud, Abdul Halim. 2002. Tasawuf di Dunia Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia. Hal 189.
[8] Chittick, William  C. 2001. The Sufi Path of Knowledge Tuhan Sejati dan Tuhan-tuhan Palsu. Jogjakarta: Penerbit Qalam. Hal 226.
[9] Chittick, William  C. 2001. The Sufi Path of Knowledge Tuhan Sejati dan Tuhan-tuhan Palsu. Jogjakarta: Penerbit Qalam. Hal 226.
[10] Ibid. Hal. 227
[12] Abdul Qodir Mahmud. Al-Falsafah As-Sufiyyah fi Al-Islam. Kairo: Darul Fikr Al Arobi. 1966. Hal. 29
[13] Burchardt, Titus. An Introduction of Sufism. Hal . 28

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar